Minggu, 23 Februari 2014

Akui Kelewatan Kecam Wasit, Pellegrini Minta Maaf

Manuel Luis Pellegrini Ripamonti (Foto: Reuters)

Memendam emosi, meletupkan amarah lantaran merasa “dikerjai” wasit dengan sejumlah keputusan pengadil lapangan yang dianggap berat sebelah, tentu wajar dan sudah lazim dilakoni pelatih sebuah tim. Tapi yang kecaman yang keluar dari mulut Manuel Pellegrini sedianya kelewatan.
Beberapa waktu lalu, wasit Jonas Eriksson jadi sasaran kegeraman gaffer Manchester City itu, setelah timnya menelan pil pahit, 0-2 di leg pertama babak 16 Liga Champions kontra Barcelona. Segala sisi, baik dari berbagai kesalahan wasit sampai tuduhan berdalih catatan buruk sang wasit pun turut diungkit pria asal Cile itu.
Dianggap kelewatan, pasalnya Pellegrini tak hanya memfokuskan kemurkaannya pada Eriksson seorang, tapi juga isyarat tuduhan pada UEFA serta Swedia, sebagai negara asal Eriksson, turut disinggung Pellegrini. Tapi setelah emosinya mereda, Pellegrini menghaturkan permintaan maaf. Berikut klarifikasi dan permintaan maaf Pellegrini, sebagaimana dikutip ESPN, Sabtu (22/2/2014):
“Saat Anda kalah di sebuah laga seperti kekalahan kami atas Barcelona, Anda frustrasi, Anda marah. Mungkin saya mengatakan sesuatu yang tak bermaksud menyinggung, jadi saya meminta maaf atas apa yang sudah saya katakan.
Saya juga ingin mengklarifikasi atas apa yang saya katakan: Saya tak membuat tuduhan serius tentang seseorang, tidak menyoal wasit, UEFA atau siapapun. Saya mengatakan bahwa wasit menentukan pertandingan karena memang dia yang menentukan sebuah pertandingan. Dia tak memberikan pelanggaran pada kami soal (Jesús) Navas dan setelah terjadi penalti terhadap Martín Demichelis, pemain kami malah diusir keluar lapangan.
Dalam kasus ini, Eriksson memberi nasib buruk pula karena sering kali wasit tak memberikan pelanggaran dan seharusnya tak selalu berbuah penalti serta keluarnya kartu merah. Saya selalu bilang dan saya katakan beberapa pekan lalu, wasit merupakan profesi yang sulit dijalani dan oleh karenanya, mereka hanya punya waktu sedetik untuk memutuskan dan setelah itu, keputusan mereka selalu dibandingkan dengan delapan sisi kamera televisi. Bukan seperti ini (biasanya) saya mengkritisi wasit.
Dia menentukan pertandingan, tapi bukan dengan niat menguntungkan Barcelona atau merugikan Manchester City. Dia mengalami hari dan nasib buruk karena dia keliru perihal pelanggaran yang menentukan pertandingan itu. Memang ketika dilihat lagi dari rekaman TV, terjadi pelanggaran tapi tak seharusnya penalti, melainkan dekat dengan garis kotak penalti.
Saya tak bilang dia wasit yang buruk, atau wasit yang tak jujur, atau wasit yang tak bisa memimpin kompetisi UEFA. Hal ini yang pertama kali ingin saya klarifikasi. Yang kedua, mungkin lebih baik laga itu dipimpin wasit lain, karena dia selalu memimpin laga di Liga Swedia. Hal ini sesuatu yang tidak saya pikirkan.
Bukan bermaksud menyinggung Swedia, atau orang Swedia ataupun wasit-wasit Swedia. Swedia adalah negara yang memiliki banyak pemain bagus, mereka punya salah satu pemain terbaik dunia, Zlatan Ibrahimovic dan negara itu juga bisa memiliki wasit yang bagus. Saya yakin dia (Eriksson) wasit yang bagus karena UEFA selalu mengevaluasi semua wasit mereka dan jika dia bukan wasit yang baik, maka dia takkan ada di staf UEFA.
Tapi saya tak mengatakan apapun tentang tuduhan serius terhadap orang Swedia, hanya saja (Liga Champions) merupakan liga terpenting di Eropa dan saya rasa kata-kata saya tak menyinggung. Yang ketiga, saya mengatakan bahwa bukan ide yang bagus bahwa seorang wasit yang merugikan Barca saat melawan AC Milan, memimpin laga Barcelona lainnya. Tapi saya bukan pihak yang berwenang soal penunjukan wasit.
Saya ulangi, saya tak membuat tuduhan serius apapun terhadap UEFA ataupun terhadap wasit, tidak pula terhadap orang Swedia serta siapapun. Kata-kata saya itu hanya buah dari pikiran saya yang sedang marah. Saya merasa sejak awal, kriteria dia tak sama untuk kedua tim. Saya pikir dia mengalami hari yang buruk – semua orang bisa mengalami hari yang buruk – tapi saya tak mengatakan bahwa dia sengaja tak memberi pelanggaran pada kami tapi selalu memberi pelanggaran pada Barcelona,”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar